Archive for February, 2009

h1

oohhh BOGORku :(

February 26, 2009
hari ini mutermuter kota bogor seharian. ada beberapa hal yang membuat saya tertegun.
1. jumlah angkot yang seperti arus urbanisasi ke kota jakarta dari berbagai daerah. banyak banget gela! satu trayek ada puluhan plat. sekali ngetem, belasan ngantre. yaolloh mo naek angkot jadi kaya mo beli baju, “dipileh, dipileh” mana yang cocok dengan hati. abangnya yang kasep, abangnya yang ganjen, abangnya yang keabang2an? nah loh! ada juga yang full sound system, naek angkot berasa di XXI, pernah naek gak lo? hahahha..gileeee bener dah persaingan di antara sesama angkotan. untung tu mobil2 warnanya kudu seragam, IJO*walopun bikin efek ni kota makin buaya, udah ada KRB, angkot, lengkap dah* kalo gak, MATEeee!! masa iya jadi warna warni? tar saya gak berasa di bogor lagi tapi mungkin di surga. hahhahaahha. Read the rest of this entry ?
h1

we are no good at not loving each other :)

February 25, 2009

baru selesai nonton dvd kedua untuk hari ini, the sisterhood and the travelling pants setelah sebelumnya nonton my sassy girl versi hollywood, hehehe. lumayan, hasil akhirnya yah ‘cuma’ nonton aja, fun, cute, thatsit. film pertama ceritanya tentang sesuatu yang gwe sama sekali gak percaya ada di dunia ini. hahhhaha, kembali lagi bersama setelah satu tahun berpisah dengan rasa yang sama bahkan lebih? no, i don’t believe it at all. gak mungkin. one in a million perhaps. jadi crunchy rasanya waktu nonton karena akhir yang seperti itu. “If we never see each other again, and one day, you feel a certain presence beside you… that would be me, loving you wherever I am”, gwe cuma suka bagian ini, “We have to stay alive, because we have to see how the story ends”, sama “Destiny is the bridge you build to the one you love.” jadi semangat setelah denger itu, LOH! film kedua, so much better, walopun ‘cuma’ gitu aja, tapi fun. mungkin karena girl things bgt kali ya, hehehe :) You need to have a little faith, Tibby. Not everyone you love is going to leave you”, ada tiga dialog yang gwe suka, HAHAHA, dasar peyempuan! yang ini ni :



Leo : Interesting jeans, Lena.

Lena : Oh… Yeah. It’s a long story.

Leo : I like long stories… Well, maybe you could tell me over dinner sometime.

Lena : I like dinner.

Leo : Yeah?

Lena : Yeah.

Leo : Great.



Kostos : We are no good at not loving each other…

Lena : I tried. I tried, but I couldn’t.

Kostos : I tried too…



[after finishing the play]

Ian : Carmen, that was incredible!

[Carmen kisses Ian]

Ian : Sometimes words fail…

[He kisses her back]



h1

"hari bahasa ibu internasional"

February 21, 2009

Saya baru tahu kalau hari ini adalah HARI BAHASA IBU INTERNASIONAL :)

Ha? Maksudnya? Awalnya juga saya tidak mengerti, tapi ingin mengerti, hehe, alhasil googling-lah saya barusan dan ini hasilnya:



Pertama, apa yang dimaksud dengan bahasa ibu? Berdasarkan Wikipedia, dikatakan bahwa, “Bahasa ibu (bahasa asli, bahasa pertama; secara harafiah mother tongue dalam bahasa Inggris) adalah bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Dan orangnya disebut penutur asli dari bahasa tersebut. Biasanya seorang anak belajar dasar-dasar bahasa pertama mereka dari keluarga mereka.” Kalau seperti ini, dapat saya pahami bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini masih berbahasa ibu (terutama di kota-kota yang bukan merupakan ibukota propinsi atau daerah tingkat I/II).



Terhitung sejak tahun 2000 lalu, tanggal 21 Februari secara resmi diperingati sebagai hari bahasa ibu internasional. Tujuannya jelas untuk menjaga kepunahan beragam bahasa daerah yang ada di dunia, karena faktanya, setiap tujuh hari sekali ada satu bahasa ibu yang hilang dari peredaran, atau singkatnya…MATI! Sebuah bahasa ibu dapat dianggap hilang atau mati, apabila penuturnya berjumlah kurang dari 100.000 orang.



Entah harus berbangga atau tidak, karena di antara ribuan bahasa yang ada di dunia, bahasa Jawa dan bahasa Sunda merupakan dua bahasa yang memiliki peringkat baik di dunia. Bahasa Sunda menempati peringkat 33 dari 6000an bahasa ibu yang ada di dunia dengan jumlah penutur sekitar 17 juta orang, sedangkan bahasa Jawa dengan penutur sekitar 21 juta orang.



Itu hanyalah sekelumit kecil hal yang patut kita syukuri, karena menurut penelitian yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2007, dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia, terjadi penurunan jumlah bahasa ibu seperti di Papua dari 273 bahasa menjadi 271 bahasa, di Sumatera dari 52 bahasa kini 49 bahasa, dan di Sulawesi dari 116 bahasa turun menjadi 114 bahasa.



Saya jadi penasaran, sebenarnya berapa jumlah total semua bahasa ibu yang ada di Indonesia? Berikut data yang menarik dari UNESCO pada tahun yang sama: saat ini terdapat sekitar 6.000 bahasa yang digunakan di seluruh dunia, tetapi bahasa-bahasa tersebut terbagi diantara penduduk dunia secara tidak merata. Lebih dari 90% penduduk dunia yang berjumlah 6 milliar hanya menggunakan sekitar 300 bahasa saja, di antaranya bahasa Hindi, Arab, Mandarin, Prancis, Spanyol, dan Inggris. Bahasa-bahasa tersebut sering disebut sebagai bahasa mayoritas. Kurang dari 10% dari total penduduk dunia berbicara dengan menggunakan sisanya yaitu 5.700 bahasa sebagai bahasa minoritas. Dari semua bahasa minoritas ini, 3.481 (61%) ditemukan di kawasan Asia dan Pasifik. Dari 6 ribu bahasa yang sudah diketahui saat ini, 61 persennya merupakan bahasa yang digunakan di kawasan Asia Pasifik, dan 726 lebih di antaranya di pakai di wilayah Indonesia.



Berikut beberapa artikel menarik yang membahas tentang ini dengan baik, klik di sini.



Membaca semakin banyak mengenai hal ini, saya merasa semakin berkewajiban untuk membiasakan diri kembali menggunakan bahasa ibu saya, (bukan bahasa ibu-mama saya plis, saya tidak sanggup untuk bahasa itu!hehe). Selama ini, teman-teman selalu mengatakan bahwa saya ‘bogor’ banget (maklum kuliah di depok, kebetulan yang isinya sebagian besar ageje-ageje getooo, hihihiiii). Mengingat hal itu saya jadi senang dan merasa bangga, karena tanpa sadar setidaknya saya telah membantu meng-eksis-kan bahasa Sunda di lingkungan saya tanpa maksud dan tujuan tertentu, yeAy!!



Saya berharap, kita tetap bisa melestarikan asset budaya negeri ini, yang semakin lama semakin berkurang. Boleh berbangga diri mampu menggunakan bahasa Inggris (atau bahkan Mandarin bagi saya), tapi jangan lupakan bahasa awal yang mengantarkan saya mampu belajar kedua bahasa asing tersebut, hehehe…Jangan sampai semakin banyak bahasa-bahasa ibu yang mati bunuh diri (language suicide) karena ditinggalkan oleh penuturnya :(